Popular Post

Posted by : Akira Hoshiro Sunday, January 13, 2013

Nah ini nih tulisan pertama gw setelah berabad-abad lamanya, entah dah berapa fossil yg ada di blog gw yang setelah proses pembuatan gw biarkan terbengkalai begitu aja. Mungkin kalo di tambang sama Pertamina bisa nambah jumlah BBM Indonesia yang "katanya" lagi langka, heeuhh. (eea curhat)



Dah sekian curhatnya. Lanjut ke inti yang mau gw share sama seantero manusia yang berkunjung ke sini (kalo ada alhamdulillah klo g ada ya usaha lagi).

Ini adalah informasi yang gw dapat setelah pelajaran nihonjijou (wajah Jepang) yang ada di universitas gw. Jepang yang terkenal dengan ke canggihan teknologinya memang membuat siapapun kagum dan ingin belajar atau sekedar berkunjung ke negeri Matahari Terbit ini. Namun di balik daya tarik itu semua ternyata ada harga yang harus di bayar oleh Jepang untuk semua kemajuan teknologinya. Yak, mari kita bahas satu persatu fenomena tersebut.

1. Otaku

Istilah ini biasanya dipakai untuk orang-orang yang terlalu "addict" terhadap sesuatu, apapun itu. Namun dewasa ini, istilah ini dipakai untuk orang-orang yang terlalu "addict" terhadap anime atau manga. Biasanya mereka akan memenuhi kamarnya dengan item-item bergambar tokoh karakter kesukaannya dalam sebuah anime atau manga. Bahkan di gadget atau laptop mereka. Para otaku banyak di jumpai di berbagai tempat yang berbau anime atau manga. Di berbagai negara mereka juga banyak di jumpai pada event berbau Jepang. Karena berbagai kasus, banyak orang yang menganggap otaku adalah orang-orang yang aneh dan ditakuti karena kebiasaan mereka. Namun tidak semua otakku itu negatif karena ada juga otaku yang bisa menjaga sikap mereka ketika di tempat umum. Bahkan ada otaku yang akhirnya ia bisa menciptakan sebuah karya dari hobbynya tersebut. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah salah satu syndrome awal dari beberapa syndrome lainnya.

2. Chuu ni Byou (Eight-grade Syndrome)

Ini fenomena yang mungkin udah ada dari dulu cuma gw baru tau sekarang, itu juga berkat salah satu teman gw yang mengenalkan anime baru di musim dingin 2012 akhir, yaitu Chuunibyou demo koi ga shitai dari kyoani. Ini adalah syndrome yang memiliki latar belakang yang hampir mirip dengan Hikkikomori namun biasanya karena mereka terlalu addict terhadap sebuah anime atau karakter di dalamnya dan menganggap mereka bisa memiliki kekuatan yang ada pada anime atau tokoh pada anime tersebut, dan mencobanya pada kehidupan nyata. Pada anime itu di contohkan seorang remaja yang dulunya terkena syndrome tersebut dengan merubah namanya menjadi "Dark Flame Master" dan berpakaian layaknya seorang ksatria dari dimensi lain dan membawa pedang yang mencari sesuatu yang bisa menghancurkan dunia (lebay) di  kesehariannya, bahkan ketika sedang menemani adiknya belanja. Orang-orang yang terkena syndrome ini secara akut akan mencampur adukkan antara dunia nyata dan khayalanya. Dan ingat, ini nyata ! Karena gw pernah punya teman seperti ini di SMP dulu.

3. Nijikon (2-D Complex)

Berikutnya adalah nijikon. Mungkin bisa di bilang ini adalah sebuah tingkat lanjut dari otaku anime dan manga, dimana biasanya mereka akan mulai mencintai karakter pada sebuah anime atau manga hingga ketingkat akut dimana mereka tidak akan tertarik pada wanita normal dan hanya tertarik pada tokoh tersebut. Biasanya mereka akan mulai menambah koleksi mereka hingga ke bantal bergambar tokoh tersebut atau yang biasa dikenal dengan sebutan (dakimakura) atau handuk bergambar. Bahkan pada suatu kasus ada seorang pria yang menikahi sebuat tokoh pada sebuah game di console nintendo DS yaitu Nene Nagasaki dari game Love +. Mereka yang disebut nijikon hanya akan tertarik pada karakter animasi saja, biasanya pada tokoh 2-Dimensi/ 2-D karena itulah disebut nijikon.

4. Hikkikomori (Shut-in)

Kalian yang biasa menonton anime atau dorama Jepang, atau yang sekedar membaca manga pasti pernah dengar istilah ini. Contoh yang mungkin paling populer adalah : Sanzenin Nagi (Hayate no Gotoku/ Hayate the Combat Butler) - kalo g tau buruan ke Gr***dia cari di tumpukan komik pasti ada. Ya, mereka adalah orang-orang yang menarik diri dari sosialita dengan berbagai alasan. Kasus terberat yang pernah gw dengar dari dosen gw adalah 10 tahun tidak keluar dari kamar (gw sampe heran betah amat di kamar ya, yah gw harap pas dia keluar g langsung bilang "ini dimana" atau "gw siapa" belaga amnesia gitu). Mereka melakukan segalanya di dalam kamar, bahkan sampe hal terekstrim ya itu buang air !! Ya, tepat buang air di kamar. Entah bagaimana sensasinya, yang pasti gw g mau ngebayanginnya. Tapi kalian jangan berpikir bahwa fenomena ini hanya terjadi di sana karena hal-hal tersebut. Sadar atau tidak sadar kitapun mengalaminya. G usah jauh-jauh, remaja jaman sekarang (termasuk gw) kalo lagi twitteran ato fesbukan ato bahkan gw pernah main game online atau sekedar baca manga itu bisa g keluar kamar sampe berjam-jam lamanya. Bahkan pernah nahan laper demi sekedar hunting momon di sebuah game. Itu termasuk gejala awal Hikkikomori. Awalnya hanya sejam-dua jam, lama-lama ?
Hmm, well..

5. Tingkat keinginan menikah dan memiliki anak yang sedikit

Berbeda dengan di negeri tercinta kita ini (Indonesia), di Jepang tingkat keinginan menikah remaja di Jepang sangat rendah. Banyak dari mereka yang menganggap ikatan dari sebuah pernikahan itu sangat merugikan. Dan tidak sedikit orang di Jepang yang menganggap mempunyai anak itu sangat merepotkan. Itu tidak bisa dipungkiri, karena di balik segala kecanggihan dan kemajuan teknologi yang di miliki Jepang, biaya hidup disana pun tidak murah. Ditambah lagi kondisi geografis Jepang yang tidak begitu luas. Harga tanah dan rumah di sana bisa membuat siapapun pusing memikirkannya. Apalagi bila mempunyai anak, harus mengurusi anak, mendidik, membiayai pendidikan, dan segala macamnya. Hal itulah yang membuat orang Jepang akan berpikir berkali-kali bila mereka ingin menikah dan memiliki momongan. Sebuah riset mengatakan bahwa bila kondisi ini terus berlanjut, 50 tahun kedepan di dunia ini tidak akan ada orang Jepang.

6. Komunikasi Bayangan/Maya (Netizen)

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang, di Indonesia pun fenomena ini mulai terlihat. Banyak sekali remaja yang lebih senang berkutat di depan PC/Laptop, tablet, BB, smartphone dan lainnya dibanding berkumpul, bermain dan berbincang-bincang bersama temannya di luar. Kemudahan telekomunikasi dewasa ini membuat manusia terlena hingga melupakan hal-hal penting seperti itu. Mereka menganggap komunikasi melalui Handphone, SMS, BBM, Whatsapp, Line, dan berbagainya sudah cukup. Padahal komunikasi tatap muka dan bertemu juga cukup penting, agar kita tahu bagaimana orang itu sesungguhnya. Karena hal ini juga banyak yang mempunyai wajah samaran ketika di dunia maya. Orang yang sebenarnya penakut, pendiam, dan juga pemalu bisa terlihat ceria, banyak bicara, dan berani ketika di dunia maya. Parahnya lagi orang yang berniat jahat bisa terlihat sangat baik ketika di dunia maya. Hingga beberapa saat lalu berita pernah dihebohkan karena kasus penculikan yang berawal dari pesbuk.

Dosen gw pernah cerita tentang kenalannya orang Jepang sebagai sosiolog yang sedang berkunjung ke Indonesia, sebut saja namanya Yamamoto. Ia menunjukkan foto-foto yang diambilnya kepada Dosen saya. Dari sekian banyak gambar yang diambilnya hampir semuanya menggambarkan situasi di pinggiran kota Jakarta yang tidak terlalu terpengaruh akan kemodernannya. Seperti tukang teh botol keliling, tukang sate, PKL, dll. Ia berkata bahwa ia iri dengan keadaan tersebut, hal tersebut membuat Dosen saya cukup bingung. Hingga akhirnya Yamamoto menjelaskan bahwa ia merindukan adanya komunikasi tatap muka seperti yang ada di Indonesia. Walaupun hanya sekedar "bang teh botolnya satu" "silahkan neng" "kemaren kemana aja bang ga keliatan" "iya neng pulang kampung sebentar, kangen keluarga". Hal itu sekarang ini sudah sangat jarang di jumpai di Jepang, dimana di sepanjang jalan kita akan melihat vending machine yang menjual berbagai kebutuhan. Hingga akhirnya ia berpesan kepada Dosen saya agar bila mengajarkan tentang Jepang jangan hanya mengajarkan kulitnya saja, ajarkanlah lebih dalam agar mereka tidak tersesat akhirnya. Ada harga yang sangat mahal yang harus dibayarkan dibalik segala kecanggihan yang dimiliki oleh negara-negara maju seperti Jepang.

Berkat hal ini juga gw sebagai penulis akhirnya merenung dan bersyukur akan hal-hal yang ada di Indonesia. Tanpa sadar kita telah begitu terpana oleh sesuatu hingga akhirnya melupakan bahkan membenci hal-hal yang sebenarnya bisa menjadi asset bagi negara ini. Hal-hal yang seperti PKL, tukang teh botol, dll sebenarnya bisa menjadi nilai tambah bagi negara ini hanya butuh di arahkan agar lebih tertata.

Yah, begitulah beberapa fenomena yang terjadi di Jepang dan beberapa pelajaran yang bisa di ambil

Credit to : Temen gw yang dah presentasi dan Dosen gw, serta berbagai sumber yang sangat banyak tempat gw dan temen gw mendapat info. Maaf kalo g ditulis disini.

{ 1 komentar... read them below or add one }

- Copyright © 2013 Dark Side Style - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -